Sunday, October 31, 2010

Kiblat Busana Islam Dunia : Indonesia?

Tulisan ini mungkin terlambat. Tapi, seperti kata pepatah lama, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jadi saya tetap jalan dengan tulisan ini. Karena apa yang saya lihat di televisi kemaren (lupa stasiun tv apa) sangat mengganggu saya. Yaitu, mengenai Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) yang sudah berlangsung Agustus lalu (saat Ramadhan). Sementara saya baru melihat liputan feature-nya kemarin di televisi.
Dari berita-berita yang saya pantau di google ternyata acara tersebut mendapat banyak pujian. Bahkan, muncul wacana bahwa Indonesia akan menuju kiblat busana Islam dunia, seperti layaknya Paris atau New York. Wuiiihhh ... apakah aku harus bangga atau tidak ... inilah yang mengganggu saya.
Sebab - tanpa mengurangi rasa hormat pada para kreator busana-busana muslim pada acara tersebut - sepertinya ada yang melenceng (in my humble opinion). Sepanjang yang saya tahu busana muslim bukan sekadar harus menutup aurat. Tapi, sejatinya ia harus merefleksikan hidup bersahaja dan tidak berlebihan dari pemakainya (khususnya kaum hawa).
Saya menyadari betapa kaum perempuan memang butuh wadah atau wacana untuk menampilkan kecantikan dan keindahan yang ia miliki. Namun begitu, apa yang ditampilkan di acara festival busana IIFF sepertinya jauh dari jiwa Islam yang bersahaja dan penuh kesederhanaan. Sebaliknya, busana-busana yang ditampilkan begitu glamour dan extraordinary seperti layaknya busana-busana modern lainnya.
Tambahan lagi, pembawa acara di televisi pun memakai busana yang tak kalah hebohnya. Sehingga lengkaplah tayangan tersebut bak tayangan adi busana lainnya. Make up yang waahhh ... aksesori yang terhampar di selutuh tubuh. Yang membedakan, hanya, aurat yang tertutup rapat, tentunya.
Dengan kata lain, saya tidak melihat ke-Islam-an yang hakiki dalam IIFF. Bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanaan dan kebersahajaan.
Sekali lagi, karena tulisan ini telat (lagipula saya heran kenapa tayangan televisi tersebut juga baru kemarin ditayangkan sementara acaranya sudah berlangsung Agustus lalu?), mungkin sudah ada pembahasan tentang hal ini. Meski demikian, sekali lagi - juga, better late than never, right?
Rasanya saya lebih suka tidak perlu ada IIFF. Tidak perlu Indonesia menjadi kiblat busana muslim dunia. Biarkan busana Islam Indonesia berjalan secara alami, tanpa ada adi busana yang, sepertinya, tak mau kalah dengan adi busana modern yang sangat hedonis dan glamour.
Tak jarang kita memang selalu terjebak pada sesuatu  yang kata orang membanggakan, tapi, sebenarnya seperti booby trap (jebakan) untuk menuju ke sebuah kesalahan.
Beberapa artis perempuan yang sudah beralih memakai busana muslim secara benar sudah menunjukkan betapa mereka sudah cukup 'gaya' tanpa berkesan berlebihan. Kecantikan mereka tetap terjaga, bahkan, aura kecantikan lebih muncul di balik jilbab-jilbab mereka. Dan yang lebih penting lagi, rezeki mereka sepertinya tidak berkurang.
So ... ini hanya pendapat awam saya yang bukan ahli busana. Saya hanya seorang suami yang beragama Islam dan beristri Islam juga dan sedang berjuang dan berdoa supaya istriku yang cantik mau memakai busana muslimah secara khaffah (sempurna) suatu hari nanti ... amiin.

Sumpah Pemuda : Sumpah (masih) Serapah, Pemuda Disumpahin!!!

Dua tahun lalu saya pernah menulis tentang Sumpah Pemuda (klik di sini). Sekarang saya ingin menulis lagi - meski sebenarnya malas (lagi). Tapi, untunglah ada sebuah iklan di televisi yang membangkitkan minat saya untuk menulis tentang hal ini lagi.
Adalah Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dari AMPI yang menampilkan ketuanya, Dave Laksono, yang membuat saya berhasrat lagi menulis tentang sumpah pemuda. Bukan karena gaya orasi (yang terkesan dipaksakan) bersemangat di ILM tersebut, tapi lebih kepada jiwa Orde Baru (Orba) yang sangat kental. Ini membuktikan - lagi-lagi - bahwa jiwa Orba masih subur di negeri ini.
Dave adalah putra dari Agung Laksono, mantan Menko Kesra dan mantan Ketua DPR, yang kita tahu seperti apa sepak terjang Agung di masa Orba.
ILM AMPI yang menampilkan Dave boleh dibilang sangat narsis. Seharusnya sebuah ILM bisa menggugah para pemirsa untuk melakukan sesuatu lebih baik lagi. Nah, iklan yang satu ini ... entahlah ... saya tak tega mengatakannya.
Dengan kata lain, siapa yang punya uang dia akan bisa melakukan apa pun di televisi kita. Atau, ini merupakan langkah publisitas dari Dave untuk langkah-langkah ke depan di papan catur perpolitikan negeri ini. Rasanya sih ... iya (hehehe).
Sementara tentang Sumpah Pemuda sendiri, ternyata masih soal sumpah serapah dari para pemuda (mahasiswa) kita yang umumnya dilakukan di jalan-jalan, sehingga mereka pun kena disumpahin banyak orang. Sama persis seperti dua tahun lalu, ketika saya menulis soal Sumpah Pemuda.
Karena itu, saya tak menemukan judul lain selain yang tertera di judul tulisa ini.

Thursday, September 09, 2010

Pagi ini di atas sajadah



Pagi ini tak sanggup berlama-lama di atas sajadah. Air mata deras mengalir, cairan di hidungpun ikut mengalir. Dada sesak, penuh penyesalan. Sesal kenapa tidak lebih banyak beribadah, kenapa tidak lebih banyak berdoa, kenapa tidak lebih banyak mengaji. Sesal memang selalu datang belakangan.

Tapi sesal juga tidak ada gunanya. Jangan melihat ke belakang. Lebih baik dan bijak kita lihat ke depan. Berdoa lagi, semoga bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Amiin ya Raaabbb!
Pagi ini tak sanggup berlama-lama di atas sajadah. Air mata deras mengalir, ketika ingat emak ... bapak dan adik Hamzah ... yang berada di alam sana. Ya Raabbb ... hamba yang masih banyak kekurangan ini, yang masih meratap pertolonganmu ... kali ini kembali bersimpuh dan memohon ... tolong jaga mereka ya Raaabbb. Jaga mereka di surga Mu, ya Raabb.
Meski di Hari Raya, di hari kemenangan besok kami tak bersama mereka ... aku yakin mereka bisa merasakan kemenangan yang kami rasakan di sini. Allahu akbar walillah ilhamd!
Pagi ini tak sanggup berlama-lama di atas sajadah. Air mata deras mengalir, bersyukur atas iman dan Islam yang masih bertahta di hati ini.
Iman yang mengantarku untuk tetap bisa membaca tanda-tanda kekuasaan Mu, ya Raabb ... lewat kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut para ustadz dalam tausiah-tausiah, dari para pembicara-pembicara di radio, di televisi, di atas panggung, bahkan dari tingkah laku para kaum dhuafa di jalan, di lampu merah dan di mana pun mereka berada. Tak terkecuali dari seorang artis penyanyi yang mulai menata hidup religinya.
Subhanallah! Kekuasaan-Mu memang hadir di mana-mana , selama kami mau 'membacanya'. Teringat kata pertama dalam Al-Qur'an; "iqra". Kini, makin paham aku akan makna kata itu.
Pagi ini tak sanggup berlama-lama di atas sajadah. Air mata deras mengalir ... Ya Raabbb ... hamba yang masih banyak kekurangan ini, yang masih meratap pertolonganmu ... yang tak ingin mencuri hak-Mu ... kali ini memohon lagi ... tolong jaga anak dan istriku ... jaga mereka untuk tetap di jalan-Mu ya Raabb! Hindari mereka dari murka-Mu, ya Raaabb. Hamba tak sanggup menjaga mereka sendiri. Kau-lah pemilik mutlak atas mereka. Aku tak ingin mencuri hak mutlak itu atas-Mu ya Raabb!
Kumohon juga ya Raabbb ... bukalah wawasanku untuk belajar dari anak dan istriku. Belajar tentang hidup, belajar bersabar, belajar dan belajar ... karena aku bukanlah siapa-siapa tanpa mereka dan tanpa Mu ya Raabb.
Di sisi sajadah yang terlipat, aku haturkan kalimat terakhir ... perkenankanlah doaku ini ya Raabb.